Seorang entrepreneur atau kita semua lebih kenal dengan istilah pengusaha, alias tukang bisnis kalo orang betawi bilang. Dalam menemukan sebuah ide bisnis tentunya harus bisa melihat sekelilingnya dengan menggunakan mata elang. Dia harus memiliki sebuah visi jauh kedepan. Harus bisa memetakan potensi yang ada. Harus punya banyak keinginan. That’s the differentiation antara pengusaha dan pegawai. Dengan mata elang seorang entrepreneur menatap kehidupan dengan gambaran besar, tentunya juga dengan sebuah impian besar. Mata elang begitu tajam, sehingga tak ada satupun peluang bisnis yang terlewatkan. Pokoknya asal jadi bisa bisa jadi duit, halal dan thoyyib.
Namun elang tetaplah elang. Dia berada jauh terbang tinggi di angkasa. Dengan segala kelebihannya, dengan segala keangkuhannya. Elang kerap lupa dengan yang lain, asyik saja dengan dirinya sendiri. Disinilah kemudian, seorang entrepreneur harus bermetamorfosa menjadi seorang social entrepreneur. Bukan lagi melihat dengan mata elang, namun melihat dengan mata cacing. Maksudnya? Ya…mata cacing. Lihatlah lebih dekat, lebih peka. Peka terhadap kesulitan masyarakat. Lebih peduli terhadap keterpurukan ummat. Seorang social entrepreneur harus bisa merasakan betapa tidak menyenangkan hidup dalam lingkaran setan yang bernama kemiskinan.
Namun semua tidak berhenti hanya pada titik sekedar peduli, sekedar peka, sekedar prihatin, dan sekedar-sekedar lainnya. Seorang social entrepreneur harus mampu merubah itu semua! . Menggali ide-ide, memeras otaknya hingga menemukan cara paling jitu untuk memulai sebuah proses perubahan. Bagaimana masyarakat bisa terberdayakan dengan kehadiran dirinya? Hadir sebagai solusi atau malah membuat pelestarian kemiskinan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar